Random Things.

Duh, udah lama banget posting nih..

Sesungguhnya apa yang akan gue posting pada kesempatan kali ini merupakan bagian dari kegelisahan yang terjadi terhadap peristiwa yang saat ini sedang hangat – hangatnya dibahas di negeri ini.

Semoga kita bisa lebih bijak serta arif untuk menyikapi adanya keanekaragaman yang terdapat di negeri yang kita cintai ini.

Sesungguhnya kekuatan tertinggi demokrasi ada di tangan rakyat..

So, menurut logika gue yang pendek, idealnya Bapak Panglima Tertinggi “pegang” Panglima TNI dan Kapolri dan bukan melakukan safari ke beberapa markas – markas organik TNI dan Polri.

Yang mana, menurut logika gue yang pendek, akan menghabiskan waktu dan tenaga yang mana Bapak Panglima Tertinggi bisa menyalurkannya ke arah yang lebih baik, jelas dan produktif.

Jangan sampai ketika ada rakyat yang ingin bertemu, Bapak Panglima Tertinggi sekaligus Bapak Kepala Negara tidak berada di tempat dengan alasan sedang melakukan kunjungan kerja dan ketika akan pulang ke istana tidak bisa mengingat kondisi jalanan yang tidak memungkinkan dan protap dari Secret Services, tidak mengijinkan untuk menggunakan helikopter karena dikhawatirkan keselamatan RI 1 akan terancam.

Jangan sampai juga, kekuatan rakyat yang berikutnya akan jauh lebih banyak dari yang diprediksikan oleh intelijen bisa mengganggu roda pemerintahan serta mengubah arah perjalanan negeri yang kita cintai ini.

Jangan sampai malah nantinya negeri yang dibangun dengan pertumpahan darah dari semua elemen rakyat, akan menjadi sia – sia hanya karena masalah 1 orang.

Yuk mari kita salurkan energi dan pikiran kita ke arah yang lebih positif dan berguna jangan malah mengedepankan sisi yang jadinya malah kitanya beradu satu dengan yang lainnya.

Alangkah indahnya negeri ini apabila kita semua memahami bahwa keanekaragaman itu akan menjadi suatu faktor pemersatu dan bukannya malah menjadi titk kuat untuk memecah belah negeri yang kita cintai ini.

Salam damai selalu.

Advertisements

Shoot Your Dream = Your Wish is My Command

Sebenarnya agak bingung untuk memulainya dari mana, karena ini pengalaman pertama untuk review aplikasi terbaru 😀

Jadi ceritanya gini, pada tanggal 27 November lalu, melalui milis yang saya ikuti ada undangan peluncuran aplikasi mobile kredit dari Columbia Indonesia. Lokasi peluncuran aplikasi ini sendiri mengambil tempat di Momi&Toys Creperie, Lotte Shopping Kuningan dengan dihadiri oleh beberapa undangan dari media maupun dari blogger.

Columbia, adalah perusahaan pioneer pembiayaan rumah tangga serta memiliki jaringan – cabang untuk peralatan elektronik, perabotan, dan gadget. Dengan pengalaman 30 tahun lebih, Columbia telah melayani lebih dari 8 juta rumah tangga di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Aplikasi Shoot Your Dream dibuat dengan tujuan agar konsumen / pengguna bisa dengan mudah membeli produk yang diinginkan hanya dengan shoot / capture produk idaman dan pembayarannya bisa dilakukan dengan cara mencicil. Seperti yang diungkapkan oleh Darwin Leo, CEO Columbia: “Kami tidak menjual apa yang ingin kami jual, tapi kami menjual apa yang konsumen ingin beli”.

Susie Sugden, Managing Director dari PT Vela Asia sebagai agensi yang membantu Columbia mengembangkan aplikasi tersebut menyebutkan, ”SHOOT YOUR DREAM merupakan aplikasi yang unik tidak hanya di Indonesia, namun mencakup skala regional”. Susie menambahkan “SHOOT YOUR DREAM adalah sebuah ide cemerlang yang diadaptasikan dengan konsumen lokal”. Dengan mengembangkan aplikasi ini, Columbia menunjukkan dirinya tidak hanya sebagai perusahaan B&M (Brick and Mortar), namun juga perusahaan terdepan dalam inovasinya berinteraksi dengan konsumen digital.

Pada saat launching tersebut, dilakukan demo aplikasi (setelah proses awal aplikasi disetujui) dengan lima (5) langkah: pengguna mengambil gambar produk idaman kemudian memberikan sedikit informasi terkait dengan nama produk serta perkiraan harga jual barang tersebut (minimal Rp. 1.500.000). Setelah proses itu dilakukan, konsumen cukup menunggu 1×24 jam dan nantinya akan dilakukan proses verifikasi oleh customer services terkait dengan produk yang dimaksud, kemudian setelah disepakati (salah satu kelebihan yang dimiliki) konsumen bisa memilih program cicilan pembelian barang yang dimaksud sesuai dengan kemampuan dan apabila disetujui maka produk idaman tersebut akan langsung menjadi milik kita.

Aplikasi ini bisa digunakan di semua platform gadget, karena dapat didownload pada device Android dan Blackberry dengan cuma – cuma. Setelah melakukan proses download, akan dilakukan proses registrasi dengan memasukkan alamat email aktif dan semua proses komunikasi dilakukan via email serta bisa menghubungi customer services yang selalu siap kapan pun.

Berikut adalah link video dari Shoot Your Dream: http://www.youtube.com/watch?v=Xka4DmMMTI8

Oh ya, ada kompetisi menarik loh dari Shoot Your Dream. Penasaran? Langsung merapat ke link ini: http://www.shootyourdream.com/

Puisi Permintaan Maaf Dokter Indonesia

Barangkali inilah saatnya,
Ketika langkah kita tak boleh berhenti begitu saja,
Karena penguasa tak mau peduli,
Ketika kita telah dikriminalisasi,
Padahal telah bekerja sesuai standar profesi,

Maafkan kami para dokter yang terluka,
Kalau suatu hari nanti kami mau cuti bersama,
Karena sudah terlalu letih kami bekerja,
Melaksanakan profesi menyelamatkan nyawa,
Dan meningkatkan kualitas hidup bangsa,

Jangan bilang dokter mogok kerja,
Bukankah cuti bersama boleh saja,
Walaupun bersama sama seluruh Nusantara?

Dan jangan bilang ini arogansi semata,
Karena kami juga manusia biasa,
Ya, kami memang manusia biasa,
Yang kecewa ketika diperlakukan tanpa rasa,
Yang terluka ketika disiram kopi panas di wajah ini,
Yang tak berdaya ketika dipenjara,
Yang terhina ketika iklan bohong kesehatan dibiarkan merajalela,
Padahal korban berjatuhan di mana mana,

Maafkan kami kalau suatu hari nanti kami cuti bersama,
Tetapi janganlah bingung dan kecewa,
Karena kalian boleh datangi mereka,
Yang mampu sembuhkan kanker payudara tanpa obat apalagi operasi,
Yang sembuhkan kanker peranakan dengan ramuan asli,
Yang sembuhkan AIDS dalam tiga bulan,
Yang sembuhkan impoten dengan ramuan tanaman,
Dan yang sanggup mengembalikan keperawanan,

Sulit kami mengerti mengapa penguasa melakukan pembiaran,
Padahal semuanya ini jelas penipuan,
Sementara dokter terus ditekan,
Dan akhirnya masuk rumah tahanan,

Masih adakah di negeri ini keadilan dan kebenaran?
Akhirnya maafkan kami wahai para penguasa negeri ini,
Karena walaupun kami tak kalah dengan dokter di luar negeri,
Tetapi kami tak mampu mengatasi penyakit gemar korupsi

(Prof DR dr Wimpie Pangkahila. Sanur, Bali, 21 November 2013).

Ayo Indonesia Bisa

Sea_games

ayo ayo ayo indonesia bisa

ayo ayo ayo

bangkit bersatulah

ayo ayo ayo kami di sini tuk mendukungmu

 

ayo ayo ayo lepaskan bebanmu

ayo ayo ayo kejarlah mimpimu

ayo ayo ayo kami di sini tuk mendukungmu

Penggalan lagu semangat yang semakin sering didengar, karena rutin ditayangkan di televisi kala jeda sebuah acara televisi.

Ayo Indonesia Bisa, demikian judulnya menjadi theme song SEA Games 26 dimana Indonesia untuk ke-4 kalinya menjadi tuan rumah pesta olahraga negara – negara ASEAN. “Istimewa”nya selain Jakarta, Palembang akan mendampingi mengingat sarana dan prasarana yang cukup menunjang serta dianggap sebagai kota yang paling bersemangat, menurut penilaian SBY..

Ada sejumput kekhawatiran yang menggelayut dalam persiapan Indonesia menjadi tuan rumah multi event yang digelar setiap 2 tahun sekali ini. Faktor utamanya adalah tidak seriusnya pemerintah mendukung kegiatan ini serta terhadap dunia olahraga secara umum. Terbukti dari penetapan Indonesia sebagai tuan rumah SEA Games ke-26 4 tahun yang lalu [kurang lebih] hingga 1 bulan sebelum penyelenggaraan ternyata sebagian besar venue belum siap.

Bayangkan, kurang lebih 4 tahun untuk mempersiapkan diri tapi kemudian apa yang terjadi dilapangan adalah venue yang digunakan sebagian besar bukanlah venue baru dan memanfaatkan venue yang telah ada dengan melakukan renovasi / perbaikan maksimal [kalau ngga mau dibilang seadanya].

Perlu dicatat juga, kontroversi seputar Wisma Atlet di Palembang lebih dominan dan bisa dibilang menjadi “trending topic” karena pihak – pihak yang terkait adalah sosok – sosok vital yang seharusnya fokus kepada persiapan penyelenggaraan.

Hitung mundur telah dilakukan semenjak 10 November tahun lalu, dan beberapa hari ke depan tepatnya 11 November 2011 akan digelar Pembukaan SEA Games 26 yang akan dilaksanakan di sepanjang aliran Sungai Musi, melintasi Jembatan Ampera dan berakhir di Benteng Kuto Besak untuk kemudian di tutup pada tanggal 22 November 2011 di Stadion Gelora Sriwijaya, pelaksanaannya akan berjalan dengan lancar dan Indonesia yang ditunjuk menjadi tuan rumah bisa mengikuti jejak kesuksesan Thailand yang berhasil menjadi tuan rumah yang baik serta menjadi juara umum SEA Games. 

Hitung – hitung mengembalikan memori tahun 1997 kala sukses menyabet gelar juara umum SEA Games..

 

Ayo Indonesia Bisa….!!

 

Facebook vs. Google+ – A Tale of the Tape

Dapetin artikel ini pagi ini di linimasa akun twitter saya. Berasal dari kicauannya @AskAaronLee: Facebook vs. Google+ – A Tale of the Tape http://t.co/gg5sAoap 

Berikut adalah artikel lengkapnya:

Facebook vs. Google+ – A Tale of the Tape

It’s easy to draw comparisons between Facebook and Google+. Sure, the two products are both “social networks” in which you can add friends, share content, and interact. But the two are actually very different and serve very different purposes. A lot of people in the press decide to use headlines like this to make an interesting story, but once you really dive into each product experience, you can tell that the two are not alike at all. There is one battle though, and that’s a battle of developer agility, uniqueness, and user base. That’s the only “vs.” here.

The purpose

The purpose of Facebook is to connect friends and friends together, so that you can keep in contact with them. Facebook is where you announce a new relationship, show everyone who your mother is, and get kudos on your birthday. It’s a very personal experience, and with the new timeline profile display, the experience got even deeper and more personal.

Google+ on the other hand is more about discovery. Discovery of content, and perhaps making some new friends, or being impressed by a current friends interests in a new way. Sure, Facebook has a news feed and you can watch the links and videos trickle in there, but Google+ has a different experience, one that now includes search.

Google+ is driven by search, and Facebook is driven by human connection.

It’s a classic Robot vs. Human. There’s no “winner” here, the two are different experiences.

The agility

I’ve been watching Facebook and Google very closely for the past few years. The last Six months has been the most active for the two companies when it comes to social. It’s not so much a feature war, it truly is a battle of quality.

Facebook has done amazing things with Photos and Videos, and most people take it for granted. Its service is rarely disrupted, the way it displays photos and video are elegant, and it’s amazing to think that these projects were started during a famous Facebook hackathon.

Google+ is Google’s first real social venture. The company has been working on it for years we’re told, and it shows. The Google Hangout experience is amazing. People think of Skype first when they think of video conferencing, but honestly Google+ destroys them with its handling of a large room of people talking in a video hangout. The video switches as people talk automatically, that alone is absolutely awesome.

The speed is not as important as the quality of the work, but both companies have exhibited that each can do both. No wonder the two are battling for talent. The survival of the fittest is at play here.

The business

Again, this is a man vs. machine model. Sure, Facebook has algorithms, but those algorithms are based on interpersonal relationships and interactions. Google doesn’t focus on connections so much that we can see yet, and as usual is focused solely on data.

There is no “winner” here yet. I have said for years that “the people are the platform”, and I still believe it to be true. The people who use a service are vastly more important than the service they’re using. Zynga would not be so popular on the Facebook platform unless there were people obsessed with playing its games and sharing every single mundane milestone they hit on said games.

Facebook flopped with project “Beacon”, its way of using people to sell product. However, seeing Spotify’s early success on Facebook’s platform shows the true power of people. Spotify is going to be a huge company with huge success, and huge profits.

Google on the other hand bought YouTube. A purchase that goes overlooked quite a bit, and that’s exactly what it wants. We all use YouTube, and Google has added its search and Adsense infrastructure to it, and it’s a beast.

Two different models of monetization here using two different approaches.

The end game

You may very well want to use both services. It truly shouldn’t be a one or the other, or a one is better than the other thing. Black and white doesn’t apply here. Things aren’t binary, even when it involves computers.

Facebook will be around for a long time, don’t believe the hype-creep on that. The company is not MySpace, and Mark Zuckerberg is not Tom. He is brilliant, the team he surrounded himself is brilliant, and its doing things to enable us to engage with people we haven’t talked to in years, and people we talk to everyday in ways we didn’t think were imaginable.

Google has opened up the world’s information for us. By typing a word into a search box, we can immediately get all of the information that we want. In seconds. Remember when you forgot who starred in that movie you liked? You had to call your brother, mom, uncle, cousin, and best friend. That was BG. Before Google. Google changed the world, and continues to do so.

You may complain about changes, and you may complain about features, and you may want to start a vs. war with Facebook and Google and that’s fine, because everyone is entitled to an opinion.

The real truth is, that we use these services for free. We do absolutely pay with our information and data, but that data is something we’ve shared since the beginning of time. It’s just now being stored.

Why not use Facebook and Google+? You might end up being the true winner.

David Tobing: Saya Tidak Cari Popularitas!

Jersey_timnas_merah

Subjek diatas merupakan headline dari portal berita web hari ini [detikcomhttp://www.detiknews.com/read/2010/12/16/094529/1526061/158/david-tobing-saya-tidak-cari-popularitas?9911032

dimana seperti yang diketahui, pengacara publik David Tobing menjadi buah bibir dikalangan pencinta olahraga terutama supporter sepakbola dengan mengajukan gugatan citizen law suit [warga negara] terkait dengan penggunaan logo Garuda di kostum Tim Nasional Sepakbola Indonesia.

Dahi saya langsung mengkerut membaca berita ini dan mempertanyakan motivasi pengacara publik ini terkait dengan gugatan yang bisa jadi seperti petir ditengah siang bolong. Respon spontan yang terlontar: “Dude, where have you been?” Loe udah lama jadi warga negara Indonesia khan? Kemana aje loe, kok ngga merhatiin aktivitas yang terkait dengan event olahraga [multi cabang loh] yang membawa nama negara dan termasuk didalamnya adalah kostum yang digunakan oleh atlet Indonesia disetiap gelaran event olahraga yang nyaris digelar di setiap tahunnya.

David Tobing membawa tameng: Undang-Undang No 24/2009 Tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara dan lagu Kebangsaan. Sehingga dengan demikian, logo yang ada di kostum di Tim Nasional Sepakbola Indonesia menyalahi aturan yang dimaksud.

Satu hal yang pasti, Bung David Tobing sepertinya lupa akan sejarah [dengan catatan: kalau dia sedang dalam kondisi tidak lupa ingatan loh :D], bahwa sesungguhnya pengguna logo Garuda di kostum TimNas Indonesia sudah sangat lama dipasang. Mulai dari pertama kali lolos di Olimpiade 1956 serta ASIAN Games & SEA Games pertama kali digelar di Jakarta sampai dengan hari ini di ajang [untuk kesekian kalinya] Piala AFF 2010.

Salut dengan gugatan Citizen Law Suit terkait dengan kenaikan airport tax, pemadaman listrik, tarif parkir yang direspond dengan positif oleh pemerintah dan itu [IMHO] tepat sasarannya. Hanya saja kok ya aneh disaat kita harus satu suara untuk memberikan dukungan yang maksimal dan positif kepada awak TimNas Indonesia kok ya muncul gugatan seperti ini.

Bukannya malah muncul beberapa hal [terutama sekali dibenak saya]: jangan – jangan niatnya cuma mau cari popularitas semata dan yang paling ekstrim adalah pengalihan isu agar fokus suporter untuk tidak mencaci maki dengan teriakan agar pemegang status quo organisasai sepakbola nasional lengser tidak muncul ketika TimNas Indonesia akan bertanding malam nanti.

Maju terus Tim Nasional Indonesia, semoga prestasi maksimal dengan menjadi Juara di AFF Cup 2010 dan berharap bahwa para pemegang status quo menyadari kesalahan yang telah diperbuat bagi pembinaan sepakboal nasional dengan tidak memperpanjang masa jabatannya!