Terbanglah Tinggi Garuda Muda…. #SEAGamesXXVI

Timnasu23

Garuda Muda atau Tim Nasional Sepakbola U23 SEA Games XXVI membuka asa dan harapan (terutama) saya (dan bisa jadi harapan bersama) terhadap prestasi olahraga nasional terutama sepakbola, bila menilik penampilan yang sejauh ini mendapatkan apresiasi positif dari para pendukung merah putih.

Fase krusial yang menegangkan menanti, sebagaimana diketahui, hasil sementara menempatkan posisi TimNas U23 pada pole position di Grup A. Sukses mengalahkan Kamboja (6-0), Singapura (2-0) dan Thailand dihajar dengan skor yang meyakinkan 3-1, Garuda Muda berada di peringkat pertama dengan hasil sempurna 9. Hari ini (beberapa jam lagi) Garuda Muda akan memainkan partai terakhirnya, sekaligus bisa dibilang partai penentuan siapa yang akan menjadi juara grup, berhadapan dengan Malaysia.

Sejarah pertemuan kedua negera (disemua level usia, terutama senior) akan menjadi faktor penguat bahwa partai terakhir ini akan menjadi big match yang dinanti oleh seluruh pendukung TimNas Indonesia, (mengingat rasa sakit yang ada ketika kalah di Final Piala AFF masih berasa) sebagai sarana untuk melakukan “balas dendam” dengan hasil akhirnya adalah 3 angka.

Idealnya, hasil imbang merupakan hasil yang memuaskan mengingat dengan jadwal yang sangat padat (tanggal 19 November Semifinal serta berikutnya 21 November Final), coach RD (Rahmad Darmawan) seperti yang pernah disampaikan melalui media akan melakukan rotasi di beberapa posisi serta dengan mempertimbangkan adanya pemain yang mendapatkan kartu kuning (akumulasi kartu kuning berikutnya akan menyebabkan Tibo, Patrich Wanggai & Okto) akan absen di partai SemiFinal 2 hari kemudian.

Harapannya performa Garuda Muda semakin meningkat dan mencapai prestasi yang membanggakan dan menuntaskan dahaga medali emas yang terakhir diperoleh tahun 1991. Serta kemudian mulai menapak meraih prestasi terbaik di ajang Piala AFF, PIala Asia, serta cita – cita yang menjadi impian semua rakyat negeri ini berlaga di putaran final Piala Dunia (dengan catatan, roda organisasi PSSI berfungsi dengan baik dan malah jangan bentuknya masih seperti sekarang, yaitu kotak yang tidak jelas serta tentunya lingkungan pergaulan yang positif buat pemain)

Jangan malah jadi euforia yang sesaat, ingat dengan pengalaman yang pernah terjadi serta kita harus malu dengan performa dari Thailand dan Malaysia yang penampilan tim nasionalnya rutin berada dalam level Asia di semua level tingkatan umur.

Maju terus Garuda Muda, terbanglah tinggi..

 

You’ll Never Walk Alone..

Mau Dibawa Kemana PSSI kita?

Agak memelintir judul lagu sih, tapi itu merupakan kalimat yang tepat untuk menggambarkan kondisi terkini dari apa yang menimpa pada organisasi pembinaan sepakbola nasional, yaitu PSSI.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa Kongres PSSI yang diadakan pada tanggal 20 Mei 2011 yang lalu mengalami kebuntuan, sebagai akibat dari ngototnya para peserta kongres dalam menyikapi tidak bisa majunya kandidat Ketua & Wakil Ketua PSSI yaitu bapak George Toisutta dan Arifin Panigoro [yang kemudian disebut dengan Kelompok 78, karena ada 78 Pengprov, Pengda dan klub yang memiliki hak suara yang mengajukan kandidat yang dimaksud].

Setelah melalui adu pendapat dari masing – masing pihak kenapa kelompok 78 tetap bersikukuh serta yang mengecam aksi dari kelompok 78 tersebut, akhirnya melalui tayangan Lensa Olahraga pagi hari ini terkuak, [khususnya untuk Pengprov PSSI Papua] seperti yang disampaikan oleh Sekum Pengprov Papua yang juga dikabarkan menjadi Juru Bicara dari Kelompok 78, Bapak Usman Fakaubun, mereka dijanjikan uang pembinaan sebesar Rp. 1 Milyar rupiah dan fasilitas akademi sepakbola lengkap berstandar internasional.

Jujur, respond yang pertama keluar dari saya adalah WHAT? Karena secara logika, ada beberapa point yang seharusnya dipertimbangkan oleh para pengurus yang tergabung dalam Kelompok 78 tersebut, terhadap efek yang terjadi. Point – point yang dimaksud tersebut adalah: [efek sebagai sanksi FIFA tentunya]

1. Kiprah dari Sriwijaya FC dan Persipura dalam Piala AFC [kita coret mengenai kiprah SFC pasca kalah dari Chonburi FC di laga tunggal perdelapanfinal Piala AFC] akan terhenti di babak berikutnya.

2. Nasib Garuda Muda yang tergabung di TimNas U-23 yang sedang melakukan seleksi yang berat & baru saja menyelesaikan salah satu tahapan yang cukup penting di BatuJajar

3. Kejuaraan Piala AFF U-23, yang akan digelar tanggal 6 – 16 Juli 2011 di Palembang

4. Nasib tim yang menjuarai dan berada di 3 besar Indonesian Super League musim ini dalam menatap laga Piala Champion Asia & kualifikasinya beserta Piala AFC di musim depan

5. Bubarkan saja kompetisi yang ada apabila wacana yang berkembang adalah: tidak ada masalah di banned [hukum – red] oleh FIFA karena masih bisa berkompetisi secara lokal. Apa tidak lebih baik dibubarkan dan bikin ajang kompetisiTARKAM di semua daerah yang ada di negeri ini.

6. APBD dihapus? Sepertinya moment itu akan jadi sia – sia dengan suasana tidak pasti yang melingkupi PSSI setelah kongres yang deadlock kemarin.

7. Serta yang terakhir perkembangan dan “nasib” para pemain senior dan yunior yang memberikan nafkah dari lapangan sepakbola dengan suasana yang tidak jelas dan diperparah dengan sanksi yang akan diberikan FIFA nantinya. 

Saya pribadi mempertanyakan komitmen dan moralitas para pemegang suara yang  [katanya] tergabung dalam Kelompok 78. Apakah mereka mempertimbangkan kepentingan nasional ketika mengambil keputusan untuk tetap mengusung duet kandidat yang dilarang oleh FIFA? 

Jangan menghitung DC [damage cost] yang nantinya bapak – bapak tidak terima, namun yang menjadi perhatian adalah besarnya biaya secara keseluruhan yang harus ditanggung dan itu tidak hanya sekedar materi namun juga akan berdampak kepada psikologis para pelaku sepakbola [khususnya pemain] nasional.

Satu hal yang perlu diperhatikan, apabila lapangan sepakbola masih berbentuk persegi empat dengan panjang 91.4 meter dan lebar 54.8 meter. Pada kedua sisi pendek, terdapat gawang sebesar 24 x 8 kaki, atau 7,32 x 2,44 meter serta Rules of Game dan lembaga tertinggi internasionalnya FIFA, mau tidak mau, suka atau tidak, kita harus mengikuti aturan main yang ada.

Sebenarnya sih sudah agak malas untuk mengikuti perkembangan yang terjadi, namun mencoba untuk bersikap apatis kok ya selalu kepikiran. Kalaupun mau peduli, apakah suara orang awam seperti saya akan didengar? Mau lebih ekstrem? Takutnya malah akan dicap sebagai pahlawan kesiangan.

Optimis lepas dari krisis? Wajib itu. Tapi melihat individu – individu yang terlibat didalamnya, kok ya berubah menjadi pesimis yang luar biasa.

Harapannya sederhana banget kok, PSSI berkembang menjadi lebih baik dengan didukung semua perangkat baik itu aturan dan individunya yang profesional dengan mengemban misi dan tujuan untuk mengembangkan dan membina potensi serta bibit pemain di semua tingkat umur dan level kompetisi.

Ibarat kata pepatah: lepas dari mulut buaya, haruskah masuk kedalam mulut harimau?

Maju terus sepakbola Indonesia!

Regenerasi itulah kuncinya

Subjek diatas merupakan kesimpulan yang bisa saya rangkum dari hasil diskusi ringan dengan salah seorang pimpinan yang ada di kampus terkait dengan sulitnya mencari figur yang bisa diterima untuk mengisi posisi tertinggi di organisasi olahraga yang saat ini sedang menjadi topik panas, apalagi kalau bukan PSSI.

DIskusi ringan yang membuka wawasan saya terhadap rumit bin ruwetnya permasalahan yang terjadi di lingkup PSSI saat ini. Kondisi yang tidak nyaman sungguh sangat dirasakan oleh para EXCO dan para pengurus PSSI dengan kencangnya hantaman yang harus diterima terutama sekali pada saat proses untuk menentukan bakal calon Ketua Umum PSSI & juga anggota EXCO di periode berikutnya.

Apalagi dengan adanya respond yang luar biasa [positif] diberikan oleh kelompok suporter nasional yang melakukan aksi didepan kantor PSSI beberapa hari yang lalu, yang telah tersebar di twitter dengan hastag (#) Bergerak & Revolusi PSSI, sebagai reaksi dari hasil verifikasi yang dikeluarkan oleh panitia Kongres PSSI.

Tekanan semakin besar dirasakan mengingat banyak pihak – pihak yang melakukan hal tersebut, sebut saja dari Kepolisian dan Militer pun secara tidak langsung melakukan beberapa manuver melalui telpon kepada para anggota EXCO.

Bola panas bergulir ketika Komisi Banding PSSI, yang diketuai oleh Prof. Tjipta Lesmana, mengeluarkan keputusan: 

http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2011/02/25/162945/1579487/76/ini-dia-keputusan-lengkap-komite-banding

Kisruh yang membuat saya bertanya – tanya, dari sekian ratus ribu individu yang aktif di organisasi olahraga tanah air, untuk mencari sosok yang bisa diterima dan memiliki track record yang bagus sukar dicari? Apakah kemudian, sosok seperti Bapak Azwar Anas & Agum Gumelar semakin langka di jumpai di Indonesia? [sosok yang patut diteladani karena mengambil keputusan mundur & tidak melanjutkan untuk di(me)calonkan sebagai Ketua Umum PSSI]

Apakah kemudian, orang – orang yang ingin terlibat & mendedikasikan cita – citanya untuk memajukan sepakbola nasional (khususnya) harus memiliki latar belakang politik dan materi yang kuat?

Apakah ini menjadi sebuah cerminan nyata betapa mandeknya proses tranformasi generasi yang terjadi di negeri ini dalam semua lingkup bidang kehidupan?

 

Masihkah akan Bertahan?

Penggalan kalimat yang terlintas dibenak saya sebagai respond dari aksi supporter Indoesia yang melakukan demo besar – besaran menyuarakan suara ketidakpuasan terhadap kinerja PSSI terutama sekali mendapatkan fakta bahwa proses verifikasi layaknya tidaknya beberapa calon Ketua Umum PSSI yang maju di Kongres bulan Maret depan mengundang kontroversi dan pertanyaan dari banyak pihak. Seperti diketahui, bahwa tim verifikasi bakal calon Ketua Umum PSSI hanya meloloskan Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie sebagai calon yang akan maju di Kongres PSSI dengan tidak meloloskan calon lainnya yaitu: Arifin Panigoro dan George Toisutta

Aksi yang dimulai pada hari selasa dengan mendatangi gedung KPK Kuningan dan kemudian bergerak ke kantor PSSI di komplek Gelora Bung Karno. Gerakan yang sama juga bergulir di beberapa daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Palembang, Semarang, Jepara, Surabaya, Malang, Palangkaraya, dan Makassar serta menjalar hingga ke Papua.

Hingga pada puncaknya hari rabu kemarin dengan datangnya teman – teman supporter dari berbagai daerah dan kemudian menyegel kantor PSSI dan akan menduduki kantor tersebut sampai dengan para pemegang status quo turun dan cita – cita terhadap Revolusi PSSI yang lebih bersih & berwibawa bisa terwujud.

Sebuah aksi yang murni menuntut adanya perbaikan dan perubahan di organisasi PSSI dengan segala dosa serta carut marut yang telah terjadi terutama sekali dengan kontroversi masih bertahannya Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI dengan segala persoalan hukum yang pernah dialaminya. Beberapa kesalahan dan dosa yang tercatat adalah: (dikutip dari beberapa sumber)

Sejak tahun 2004 lalu, Nurdin Halid akrab dengan masalah hukum. Masuk bui, keluar bui, bukanlah hal yang aneh baginya. Pada 16 Juli 2004, ketua umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) periode 2004-2009 ini ditahan sebagai tersangka kasus penyelundupan gula impor ilegal 73 ribu ton. Nurdin kemudian juga ditahan atas dugaan korupsi dalam distribusi minyak goreng Koperasi Distribusi Indonesia (KDI).

Hampir setahun kemudian (16/6/05), dia dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Jaksa tidak terima dan mengajukan kasasi ke MA. Baru pada 13 Agustus 2007, MA menyatakan Nurdin bersalah dan divonis 2 tahun penjara. Nurdin kemudian dituntut 10 tahun penjara dalam kasus gula impor ilegal 56 ton dengan kerugian negara Rp 3,4 miliar pada September 2005. Namun dakwaan ditolak majelis hakim Pengadilan Jakarta Utara pada 15 Desember 2005 karena BAP perkaranya dinilai cacat hukum.

Selain kasus tersebut, Nurdin juga terlibat kasus pelanggaran kepabeanan impor beras dari Vietnam dan divonis penjara 2 tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 9 Agustus 2005. Dia pun mendekam di Rutan Salemba. Tanggal 17 Agustus 2006 ia dibebaskan setelah mendapatkan remisi dari pemerintah bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia (sumber detik.com)

Dalam dunia sepakbola, ini daftar 10 dosa Nurdin Halid seperti dilansir laman forum diskusi kaskus :

1. Menggunakan politik uang saat bersaing menjadi Ketua Umum PSSI pada November 2003 dengan Soemaryoto dan Jacob Nuwawea.

2. Mengubah format kompetisi dari satu wilayah menjadi dua wilayah dengan memberikan promosi gratis kepada 10 tim yakni Persegi Gianyar, Persiba Balikpapan, Persmin Minahasa, Persekabpas Pasuruan, Persema Malang, Persijap Jepara, Petrokimia Putra Gresik, PSPS Pekanbaru, Pelita Jaya, dan Deltras Sidoarjo.

3. Terindikasi jual beli trofi sejak musim 2003 lantaran juara yang tampil punya kepentingan politik karena ketua atau manajer klub yang bersangkutan akan bertarung di Pilkada. Persik Kediri (2003), Persebaya Surabaya (2004), Persipura Jayapura (2006), Persik Kediri (2006), Sriwijaya FC Palembang (2007), Persipura Jayapura (2008/2009).

4. Jebloknya prestasi timnas. Tiga kali gagal ke semifinal SEA Games yakni tahun 2003, 2007, dan 2009. Tahun 2005 lolos ke semifinal, tapi PSSI ketika itu dipimpin Pjs Agusman Effendi (karena Nurdindi penjara). Terakhir 2010 mengajak timnas pelesiran politik sehingga tak bisa konsentrasi dalam final piala AFF 2010.

5. Membohongi FIFA dengan menggelar Munaslub di Makassar pada tahun 2008 untuk memperpanjang masa jabatannya.

6. Tak jelasnya laporan keuangan terutama dana Goal Project dari FIFA yang diberikan setiap tahunnya.

7. Banyak terjadi suap dan makelar pertandingan. Bahkan, banyak yang melibatkan petinggi PSSI lainnya seperti Kaharudinsyah dan Togar Manahan Nero.

8. Tak punya kekuatan untuk melobi pihak kepolisian sehingga sejumlah pertandingan sering tidak mendapatkan izin atau digelar tanpa penonton.

9. Satu-satunya Ketua Umum PSSI dalam sejarah yang memimpin organisasi dari balik jeruji besi.

10. Terlalu banyak intervensi terhadap keputusan-keputusan Komdis sebagai alat lobi untuk kepentingan pribadi dan menjaga posisinya sebagai Ketua Umum.

Dengan segala data dan fakta yang telah terungkap serta besarnya aksi yang digalang oleh Suporter Indonesia, masihkan Nurdin Halid dan para pemegang status quo bertahan? Sungguh sebuah keberanian dan dibutuhkan tingkat “malu” yang 0% apabila memang ternyata aksi yang saat ini sedang digelar diacuhkan dan dianggap angin lalu oleh para pemegang status quo.

Mengharapkan pemerintah turun langsung & mengambil alih Kongres PSSI? Kok saya ragu dengan hal itu dengan menilik kinerja pemerintahan yang saat ini sedang berjalan dimana kecenderungannya malah lebih banyak menebar pesona dibandingkan hasil nyata yang efeknya dirasakan positif oleh masyarakat.

Pun apabila memang pemerintah turun langsung, harapannya sih intrik politik dan aroma2x persaingan layaknya di Gedung Dewan tidak dibawa ke dalam kongres PSSI dan perlu adanya pengawasan dan ekstra perhatian dari kita pecinta sepakbola tanah air untuk mengawal agar jalannya kongres bebas dari intrik – intrik kotor yang biasanya terjadi di dalam gedung dewan terhormat.

Maju terus supporter Indonesia, semoga cita – cita murni terhadap REVOLUSI PSSI bisa terwujud dan dukungan [baik fisik maupun doa] akan terus mengalir tiada henti.

You’ll Never Walk Alone..!

Oh ya, gerakan teman – teman suporter yang saat ini sedang dilakukan bisa dipantau via Twitter dengan follow @infosuporter hastagnya: #Bergerak

Revolusi_pssiRevolusi_pssi_2

Sumber artikel: 

http://www.beritaunik.net/olahraga/kesalahan-dan-dosa-nurdin-halid-selama-menjabat-ketua-pssi.html 

Sumber gambar: 

 (fotografer: soebatigol)

http://www.detiksport.com/readfoto/2011/02/24/015727/1577871/548/6/ (Fotografer – Mohammad Resha Pratama)

 

E.S. Ito: Surat Untuk Firman

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

Petikan rangkaian kalimat yang sungguh indah dan menyentuh..

Detailnya bisa dilihat di sini: 

http://itonesia.com/surat-untuk-firman/

Kecil sih Kolomnya, Cuma ya Nampol Juga…

Omong_kosong_nh

Agak bingung mungkin dengan deskripsi subjek yang saya sampaikan? Tapi apabila telah melihat gambar yang saya upload tentunya sudah paham maksudnya. [Capture saya ambil dari Harian Republika yang terbit hari ini, 21 Desember 2010]

Nampol disini maksudnya adalah: saya langsung merasakan ketidaknyamanan dengan pernyataan yang disampaikan oleh Nurdin Halid kepada media yang dimaksud yaitu: Program PSSI Berhasil..

Bapak Nurdin Halid yang terhormat, sepandai – pandainya anda berorasi dan menjelaskan kepada wartawan mengenai nilai positif dari rejim anda, sesungguhnya kami suporter Indonesia sudah muak dan ingin rasanya melempar tomat busuk ke muka anda dengan banyaknya rapor merah yang telah ada.

Edisi perdana dari Zine Plak akun twitter @zinePLAK telah mendeskripsikan dengan jelas kesalahan – kesalahan yang telah dibuat oleh Rejim Nurdin Halid dari tahun 2003 sampai dengan sekarang. Link detail: http://goo.gl/Gpyu6

Piala AFF 2010: Pestanya Calo, Tokoh Politik dan Selebritas…

Jersey_timnas_putih

Piala AFF 2010 mendekati titik puncak, yaitu Final yang mempertemukan Tim Nasional Malaysia dan Indonesia.

Format kandang dan tandang yang telah diterapkan mulai babak Semi Final kemarin, kembali akan dijalani oleh kedua tim, dimana Indonesia akan bertandang ke Stadion Bukit Jalil pada tanggal 26 Desember dan menjadi tuan rumah menjamu Malaysia [sekaligus partai penentuan] pada tanggal 29 Desember 2010 di Stadion Gelora Bung Karno Senayan.

Pada penyelenggaraan Piala AFF edisi tahun 2010 ini, merupakan edisi yang ke-3 kalinya Indonesia menjadi tuan rumah, setelah tahun 2002 dan 2008. Selain itu juga keberhasilan Tim Nasional Indonesia masuk ke Final tahun ini merupakan sukses yang ke-4 kalinya setelah pada tahun 2000 & 2002 dikalahkan oleh Thailand, serta tahun 2004 dikalahkan Singapura.

Kemeriahan dan euforia sangat terasa ketika Tim Nasional Indonesia mencatat hasil gemilang di 3 pertandingan putaran grup, yaitu dengan mengalahkan Malaysia 5 – 1, Laos, 6 – 0 dan Thailand [sekaligus memupus ambisi Bryan Robson] dengan skor 2 – 1. Efek nan luar biasa yang membuat saya kehilangan kata – kata adalah kuatnya pemberitaan mengenai Tim Nasional dengan fokus utamanya adalah mengenai sosok pemain naturalisasi Irfan Bachdim. Sosok yang “diyakini” menjadi magnet luar biasa bagi para individu terutama sekali kaum perempuan untuk kemudian rela datang dan berjuang keras untuk dapat menyaksikan kiprah pemain pujaan mulai saat latihan, kembali ke hotel dan juga ketika bertanding di laga resmi.

Saya tidak akan bahas detail tentang itu, yang ingin coba saya angkat adalah sebenarnya pesta Piala AFF tahun ini sebenarnya milik siapa sih?

Sungguh sebuah pertanyaan yang susah untuk dijawab apabila kita merunut informasi yang telah tersebar di media massa terkait dengan amburadulnya distribusi tiket mulai babak Semi Final. Idealnya, ketika turnamen – yang menjadi agenda rutin AFF setiap 2 tahun sekali- ini digelar, seharusnya suporter dan para penikmat sepakbola sejati lah yang menjadi objek utama dari panitia lokal turnamen. Namun kemudian apa yang terjadi? Sudah menjadi sebuah rahasia umum, apabila setiap ada turnamen besar yang digelar di tanah air, pihak yang diuntungkan selama kegiatan ini adalah CALO.

Apakah saya melebih – lebihkan? Silahkan koreksi saya apabila deskripsi yang saya paparkan diatas adalah salah. {Dari pengalaman yang pernah dialami, tiket pertandingan akan mudah dicari di loket yang tersedia adalah ketika Tim Nasional Indonesia melakukan partai persahabatan dengan negara sahabat]

Bingung dan bertanya – tanya kok ya di jaman yang sudah sedemikian canggih, ketika orang2x Indonesia sudah banyak memiliki gadget paling canggih, kok ya distribusi tiketnya masih dilakukan secara manual. Ketika tiket bisa didistribusikan secara online dan juga “toko – toko” tiket online telah menjamur seiring dengan rutinnya boyband [ups], maksudnya penyanyi dan band – band papan atas luar negeri yang mengadakan konser di Jakarta.

Apakah PSSI & panitia lokal mengalami gagap teknologi? Hanya rumput yang bergoyang yang bisa menjawabnya..

Selain calo, saya juga menyoroti keberadaan tokoh politik dan hiburan negeri ini yang mendadak TimNas. Seperti yang diketahui, kiprah TimNas kali ini mendapat sorotan tajam nan luar biasa meriah dari pihak2x yang dulunya tidak begitu keliatan ketika Tim Nasional Indonesia berlaga. Presiden mendadak sidak dan mendengarkan curhat yang disampaikan oleh punggawa TimNas pada saat persiapan jelang laga Semi Final pada tanggal 13 Desember 2010 kemarin yang kemudian tentunya akan mendorong para tokoh politik untuk mengambil langkah hal yang sama, yaitu mendadak TimNas.

Terkait dengan selebritas, sosok yang dicari dan yang menjadi magnet tentunya sudah tidak perlu diungkapkan disini 😉 Sosok Irfan yang bertampang bule, ganteng dan bisa bikin gol mengundang decak kagum kaum hawa untuk mengenai lebih dekat dan bahkan ada yang berniat untuk bikin agama atas nama Irfan Bachdim. Sungguh sebuah euforia yang bikin saya ngeri dan membuat kulit merinding.

Sebuah tantangan buat Irfan tentunya, mengingat yang bersangkutan usianya masih muda dan kariernya sebagai pemain profesional masih panjang. Jangan sampai hingar bingar dan gemerlap yang saat ini terjadi membuat fokusnya menjadi lepas dan tergoda dengan gemerlap yang ditawarkan diluar karier profesionalnya yang saat ini sedang dibina.

Semoga di akhir Piala AFF 2010 nanti akan menjadi happy ending dan kado yang berkesan buat Indonesia yang sudah cukup lama menantikan prestasi dari Tim Nasional. Setelah cukup lama tenggelam di beberapa ajang sepakbola di semua level usia. Serta selain itu menjadi bahan instropeksi buat pemegang status quo untuk tidak memperpanjang orde kepemimpinannya, mengingat betapa suramnya rejim yang sudah dirintis sejak 2003 silam.

Maju terus Tim Nasional Indonesia, terbang tinggi GARUDAku raih prestasi maksimal dengan menjadi kampiun Piala AFF tahun ini.

Merah putih, You’ll Never Walk Alone!