Euforia Si Biru #Persib #PersibNuAink

Lama tidak menulis, semoga tidak menjadikan diri saya menjadi kagok untuk menulis (kembali). Sejatinya ada banyak hal yang ada di pikiran saya yang ingin dtuangkan dalam bentuk tulisan, namun apa daya semuanya hanya sekedar teori dan lewat begitu saja hanya berseliweran di awang – awang.

Edisi kali ini saya mencoba untuk sedikit menulis mengenai tim kebanggaan lokal saya, yaitu Persib Bandung.

Apabila mengikuti berita sepakbola nasional beberapa minggu terakhir ini, tentunya tidak akan lepas dengan sepak terjang manajemen Persib dalam menyiapkan kerangka untuk menyambut Kompetisi Sepakbola level tertinggi, yaitu Liga 1 yang diberi titel: Go-Jek Traveloka Liga 1.

Menyambut musim kompetisi Liga 1, setelah sebelumnya pada medio 2014 lalu QNB League dihentikan sebagai akibat “perseteruan antara Pemerintah dengan PSSI”, Persib Bandung membeli beberapa pemain, seperti: Dedi Kusnandar, Supardi Nasir, Achmad Jufriyanto, Wildansyah, Imam Arief, serta Shohei Matsunaga. Namun kemudian ternyata pembelian pemain yang dilakukan kurang mumpumi, mengingat prestasi yang ditoreh dalam perhelatan Piala Presiden 2017 yang lalu, hanya berada di posisi 3, dimana catatan yang mengemuka adalah Coach Djanur perlu sosok pemain tengah yang bertipe agak menyerang (AM – Attacking Midfielder) dan satu orang penyerang (striker) untuk mengurangi ketergantungan terhadap jasa Sergio van Dijk.

Tak tanggung – tanggung, manajemen Persib akhirnya memutuskan untuk membeli Michael Essien (34) yang mengecap bermain di beberapa klub tenar Eropa (Chelsea, Real Madrid dan AC. Milan) – yang akhirnya memaksa PSSI mengeluarkan aturan baru terkait dengan adanya status pemain marquee player diluar ketentuan pemain asing 2+1 (2 Non Asia & 1 Asia) dan dilanjut kemudian dengan kedatangan Carlton Cole (salah seorang pemain jebolan diklat Chelsea dan pernah 1 musim bermain dengan Essien) yang lama bermain di West Ham United dan pernah memperkuat Tim Nasional Senior Inggris sebanyak 7 kali.

Pertanyaan besar yang menanti adalah, seberapa besar kah ledakan yang ditampilkan oleh Essien dan Cole? Apakah akan memenuhi ekspetasi para bobotoh bahwa dengan kedatangan duo jebolan yang sama – sama pernah memperkuat tim dengan berkostum warna biru, akan menjadikan Persib tampil sebagai jawara di musim kompetisi kali ini dengan penampilan tim yang konsisten dan meraih hasil yang baik di setiap pertandingannya?

Efek yang lebih luas lagi, apakah dengan kehadiran mereka berdua akan memberikan manfaat bagi Persib dan sepakbola nasional? Idealnya sih, semoga Essien dan Cole bisa share bagaimana sepakbola di negara – negara Eropa itu dikelola, mulai dari infrastruktur, metode latihan dan juga hingga sampai bagaimana aturan – aturan kompetisi bisa diterapkan secara konsisten dan fair. Serta harapan yang tidak kalah pentingnya adalah konsistensi profesionalisme dari Essien dan Cole ketika menjalani kontrak yang terlah terjalin. Jangan sampai malah nantinya ada kesan mereka berdua di anak–emaskan mengingat label “pemain Eropa” dengan beragam prestasi yang telah diraih.

Semoga euforia Si Biru akan menjadi akhir yang manis bukan hanya buat Persib tapi juga buat sepakbola nasional secara keseluruhan, dimana geliat dan atmosfer untuk meningkatkan mutu kompetisi akan menjadi lebih menyala dan PSSI lebih jeli serta konsisten dan masuk akal dalam membuat aturan main kompetisi dimana muaranya atau akhirnya akan menciptakan sebuah tim nasional yang kuat di semua tingkatan usia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s