Regenerasi itulah kuncinya

Subjek diatas merupakan kesimpulan yang bisa saya rangkum dari hasil diskusi ringan dengan salah seorang pimpinan yang ada di kampus terkait dengan sulitnya mencari figur yang bisa diterima untuk mengisi posisi tertinggi di organisasi olahraga yang saat ini sedang menjadi topik panas, apalagi kalau bukan PSSI.

DIskusi ringan yang membuka wawasan saya terhadap rumit bin ruwetnya permasalahan yang terjadi di lingkup PSSI saat ini. Kondisi yang tidak nyaman sungguh sangat dirasakan oleh para EXCO dan para pengurus PSSI dengan kencangnya hantaman yang harus diterima terutama sekali pada saat proses untuk menentukan bakal calon Ketua Umum PSSI & juga anggota EXCO di periode berikutnya.

Apalagi dengan adanya respond yang luar biasa [positif] diberikan oleh kelompok suporter nasional yang melakukan aksi didepan kantor PSSI beberapa hari yang lalu, yang telah tersebar di twitter dengan hastag (#) Bergerak & Revolusi PSSI, sebagai reaksi dari hasil verifikasi yang dikeluarkan oleh panitia Kongres PSSI.

Tekanan semakin besar dirasakan mengingat banyak pihak – pihak yang melakukan hal tersebut, sebut saja dari Kepolisian dan Militer pun secara tidak langsung melakukan beberapa manuver melalui telpon kepada para anggota EXCO.

Bola panas bergulir ketika Komisi Banding PSSI, yang diketuai oleh Prof. Tjipta Lesmana, mengeluarkan keputusan: 

http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2011/02/25/162945/1579487/76/ini-dia-keputusan-lengkap-komite-banding

Kisruh yang membuat saya bertanya – tanya, dari sekian ratus ribu individu yang aktif di organisasi olahraga tanah air, untuk mencari sosok yang bisa diterima dan memiliki track record yang bagus sukar dicari? Apakah kemudian, sosok seperti Bapak Azwar Anas & Agum Gumelar semakin langka di jumpai di Indonesia? [sosok yang patut diteladani karena mengambil keputusan mundur & tidak melanjutkan untuk di(me)calonkan sebagai Ketua Umum PSSI]

Apakah kemudian, orang – orang yang ingin terlibat & mendedikasikan cita – citanya untuk memajukan sepakbola nasional (khususnya) harus memiliki latar belakang politik dan materi yang kuat?

Apakah ini menjadi sebuah cerminan nyata betapa mandeknya proses tranformasi generasi yang terjadi di negeri ini dalam semua lingkup bidang kehidupan?