Empat Tahun yang Bermakna

Bingung harus memulai dari mana untuk mendeskripsikan apa yang saya rasakan saat ini. Sebuah periode yang membuat saya bertanya – tanya apakah saya saat ini sedang bermimpi ataukah tidak.

Empat tahun yang sungguh bermakna dimana didalamnya terdapat kejutan – kejutan yang membuat saya kehilangan kata – kata untuk mendeskripsikannya.

Moment ketika pertama kalinya melihat kilauan lampu ruang operasi, setelah sebelumnya kurang lebih selama 8 bulan ada didalam perut Bunda.

Moment pertama kalinya melalui penglihatan secara langsung diberikannya ASI oleh sang Bunda untuk kemudian pada bulan ke-6 or 7 diberikan makanan tambahan.

Moment ketika pertama kalinya belajar duduk, kemudian merangkak dan hingga saat ini susah untuk mengejarnya ketika sedang berlari didalam rumah.

Moment pertama kalinya bisa mengucapkan kata Ayah, Bunda, hingga saat ini bertanya banyak hal kepada saya dengan subjek – subjek yang membuat saya takjub serta coletahannya yang membuat saya terpaksa membandingkan kebawelannya dengan sang Bunda.

Moment pertama kalinya bisa melafalkan doa makan, tidur dan huruf Iqro [kurang lebih udah satu bulan ini belajar Iqro di dekat rumah 🙂 ]

Moment pertama kalinya menjaga dan berteriak minta tolong apabila mengalami kesulitan ketika sedang bermain dengan adiknya.

Yup, Empat Tahun penuh Makna yang membuat saya tidak percaya bahwa sosok Jamie Alief Hakam Nurachman akan memasuki periode – periode yang bisa dikatakan sulit dan membutuhkan ekstra kesabaran serta kewaspadaan dan tingkat pengendalian emosi yang cukup tinggi. Periode atau tahapan yang mana sosok Jamie Alief akan memasuki masa – masa sekolah.

Doa yang selalu tercurah disetiap kesempatan adalah bahwa kelak Jamie Alief menjadi sosok anak yang sholeh, pintar, berbakti kepada agama, orang tua dan menjadi sosok pelindung dan tauladan bagi adiknya beserta keluarga dan lingkungan sekitarnya. Serta yang terutama menjadi sosok yang sering mengingatkan ayahnya apabila ayahnya “lupa”

Sedikit menambahkan,

Semoga bisa ke depannya kelak, bisa memberikan bimbingan dan pengawasan yang positif dan maksimal buat Jamie Alief dan adiknya Fowler Farrel, dengan benchmark nya adalah apa yang telah “diwariskan” oleh kakek neneknya 🙂

Semoga…

Just FYI, Jamie Alief lahir di Ciledug, 26 Desember 2006.

Img-20101226-00133Img-20101226-00135Img-20101226-00142Img-20101226-00143Img-20101226-00144Img-20101226-00145Img-20101226-00146Img-20101226-00147Img-20101226-00148Img-20101226-00149Img-20101226-00150Img-20101226-00151Img-20101226-00152Img-20101226-00153

Advertisements

E.S. Ito: Surat Untuk Firman

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

Petikan rangkaian kalimat yang sungguh indah dan menyentuh..

Detailnya bisa dilihat di sini: 

http://itonesia.com/surat-untuk-firman/

Kecil sih Kolomnya, Cuma ya Nampol Juga…

Omong_kosong_nh

Agak bingung mungkin dengan deskripsi subjek yang saya sampaikan? Tapi apabila telah melihat gambar yang saya upload tentunya sudah paham maksudnya. [Capture saya ambil dari Harian Republika yang terbit hari ini, 21 Desember 2010]

Nampol disini maksudnya adalah: saya langsung merasakan ketidaknyamanan dengan pernyataan yang disampaikan oleh Nurdin Halid kepada media yang dimaksud yaitu: Program PSSI Berhasil..

Bapak Nurdin Halid yang terhormat, sepandai – pandainya anda berorasi dan menjelaskan kepada wartawan mengenai nilai positif dari rejim anda, sesungguhnya kami suporter Indonesia sudah muak dan ingin rasanya melempar tomat busuk ke muka anda dengan banyaknya rapor merah yang telah ada.

Edisi perdana dari Zine Plak akun twitter @zinePLAK telah mendeskripsikan dengan jelas kesalahan – kesalahan yang telah dibuat oleh Rejim Nurdin Halid dari tahun 2003 sampai dengan sekarang. Link detail: http://goo.gl/Gpyu6

Piala AFF 2010: Pestanya Calo, Tokoh Politik dan Selebritas…

Jersey_timnas_putih

Piala AFF 2010 mendekati titik puncak, yaitu Final yang mempertemukan Tim Nasional Malaysia dan Indonesia.

Format kandang dan tandang yang telah diterapkan mulai babak Semi Final kemarin, kembali akan dijalani oleh kedua tim, dimana Indonesia akan bertandang ke Stadion Bukit Jalil pada tanggal 26 Desember dan menjadi tuan rumah menjamu Malaysia [sekaligus partai penentuan] pada tanggal 29 Desember 2010 di Stadion Gelora Bung Karno Senayan.

Pada penyelenggaraan Piala AFF edisi tahun 2010 ini, merupakan edisi yang ke-3 kalinya Indonesia menjadi tuan rumah, setelah tahun 2002 dan 2008. Selain itu juga keberhasilan Tim Nasional Indonesia masuk ke Final tahun ini merupakan sukses yang ke-4 kalinya setelah pada tahun 2000 & 2002 dikalahkan oleh Thailand, serta tahun 2004 dikalahkan Singapura.

Kemeriahan dan euforia sangat terasa ketika Tim Nasional Indonesia mencatat hasil gemilang di 3 pertandingan putaran grup, yaitu dengan mengalahkan Malaysia 5 – 1, Laos, 6 – 0 dan Thailand [sekaligus memupus ambisi Bryan Robson] dengan skor 2 – 1. Efek nan luar biasa yang membuat saya kehilangan kata – kata adalah kuatnya pemberitaan mengenai Tim Nasional dengan fokus utamanya adalah mengenai sosok pemain naturalisasi Irfan Bachdim. Sosok yang “diyakini” menjadi magnet luar biasa bagi para individu terutama sekali kaum perempuan untuk kemudian rela datang dan berjuang keras untuk dapat menyaksikan kiprah pemain pujaan mulai saat latihan, kembali ke hotel dan juga ketika bertanding di laga resmi.

Saya tidak akan bahas detail tentang itu, yang ingin coba saya angkat adalah sebenarnya pesta Piala AFF tahun ini sebenarnya milik siapa sih?

Sungguh sebuah pertanyaan yang susah untuk dijawab apabila kita merunut informasi yang telah tersebar di media massa terkait dengan amburadulnya distribusi tiket mulai babak Semi Final. Idealnya, ketika turnamen – yang menjadi agenda rutin AFF setiap 2 tahun sekali- ini digelar, seharusnya suporter dan para penikmat sepakbola sejati lah yang menjadi objek utama dari panitia lokal turnamen. Namun kemudian apa yang terjadi? Sudah menjadi sebuah rahasia umum, apabila setiap ada turnamen besar yang digelar di tanah air, pihak yang diuntungkan selama kegiatan ini adalah CALO.

Apakah saya melebih – lebihkan? Silahkan koreksi saya apabila deskripsi yang saya paparkan diatas adalah salah. {Dari pengalaman yang pernah dialami, tiket pertandingan akan mudah dicari di loket yang tersedia adalah ketika Tim Nasional Indonesia melakukan partai persahabatan dengan negara sahabat]

Bingung dan bertanya – tanya kok ya di jaman yang sudah sedemikian canggih, ketika orang2x Indonesia sudah banyak memiliki gadget paling canggih, kok ya distribusi tiketnya masih dilakukan secara manual. Ketika tiket bisa didistribusikan secara online dan juga “toko – toko” tiket online telah menjamur seiring dengan rutinnya boyband [ups], maksudnya penyanyi dan band – band papan atas luar negeri yang mengadakan konser di Jakarta.

Apakah PSSI & panitia lokal mengalami gagap teknologi? Hanya rumput yang bergoyang yang bisa menjawabnya..

Selain calo, saya juga menyoroti keberadaan tokoh politik dan hiburan negeri ini yang mendadak TimNas. Seperti yang diketahui, kiprah TimNas kali ini mendapat sorotan tajam nan luar biasa meriah dari pihak2x yang dulunya tidak begitu keliatan ketika Tim Nasional Indonesia berlaga. Presiden mendadak sidak dan mendengarkan curhat yang disampaikan oleh punggawa TimNas pada saat persiapan jelang laga Semi Final pada tanggal 13 Desember 2010 kemarin yang kemudian tentunya akan mendorong para tokoh politik untuk mengambil langkah hal yang sama, yaitu mendadak TimNas.

Terkait dengan selebritas, sosok yang dicari dan yang menjadi magnet tentunya sudah tidak perlu diungkapkan disini 😉 Sosok Irfan yang bertampang bule, ganteng dan bisa bikin gol mengundang decak kagum kaum hawa untuk mengenai lebih dekat dan bahkan ada yang berniat untuk bikin agama atas nama Irfan Bachdim. Sungguh sebuah euforia yang bikin saya ngeri dan membuat kulit merinding.

Sebuah tantangan buat Irfan tentunya, mengingat yang bersangkutan usianya masih muda dan kariernya sebagai pemain profesional masih panjang. Jangan sampai hingar bingar dan gemerlap yang saat ini terjadi membuat fokusnya menjadi lepas dan tergoda dengan gemerlap yang ditawarkan diluar karier profesionalnya yang saat ini sedang dibina.

Semoga di akhir Piala AFF 2010 nanti akan menjadi happy ending dan kado yang berkesan buat Indonesia yang sudah cukup lama menantikan prestasi dari Tim Nasional. Setelah cukup lama tenggelam di beberapa ajang sepakbola di semua level usia. Serta selain itu menjadi bahan instropeksi buat pemegang status quo untuk tidak memperpanjang orde kepemimpinannya, mengingat betapa suramnya rejim yang sudah dirintis sejak 2003 silam.

Maju terus Tim Nasional Indonesia, terbang tinggi GARUDAku raih prestasi maksimal dengan menjadi kampiun Piala AFF tahun ini.

Merah putih, You’ll Never Walk Alone!

 

David Tobing: Saya Tidak Cari Popularitas!

Jersey_timnas_merah

Subjek diatas merupakan headline dari portal berita web hari ini [detikcomhttp://www.detiknews.com/read/2010/12/16/094529/1526061/158/david-tobing-saya-tidak-cari-popularitas?9911032

dimana seperti yang diketahui, pengacara publik David Tobing menjadi buah bibir dikalangan pencinta olahraga terutama supporter sepakbola dengan mengajukan gugatan citizen law suit [warga negara] terkait dengan penggunaan logo Garuda di kostum Tim Nasional Sepakbola Indonesia.

Dahi saya langsung mengkerut membaca berita ini dan mempertanyakan motivasi pengacara publik ini terkait dengan gugatan yang bisa jadi seperti petir ditengah siang bolong. Respon spontan yang terlontar: “Dude, where have you been?” Loe udah lama jadi warga negara Indonesia khan? Kemana aje loe, kok ngga merhatiin aktivitas yang terkait dengan event olahraga [multi cabang loh] yang membawa nama negara dan termasuk didalamnya adalah kostum yang digunakan oleh atlet Indonesia disetiap gelaran event olahraga yang nyaris digelar di setiap tahunnya.

David Tobing membawa tameng: Undang-Undang No 24/2009 Tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara dan lagu Kebangsaan. Sehingga dengan demikian, logo yang ada di kostum di Tim Nasional Sepakbola Indonesia menyalahi aturan yang dimaksud.

Satu hal yang pasti, Bung David Tobing sepertinya lupa akan sejarah [dengan catatan: kalau dia sedang dalam kondisi tidak lupa ingatan loh :D], bahwa sesungguhnya pengguna logo Garuda di kostum TimNas Indonesia sudah sangat lama dipasang. Mulai dari pertama kali lolos di Olimpiade 1956 serta ASIAN Games & SEA Games pertama kali digelar di Jakarta sampai dengan hari ini di ajang [untuk kesekian kalinya] Piala AFF 2010.

Salut dengan gugatan Citizen Law Suit terkait dengan kenaikan airport tax, pemadaman listrik, tarif parkir yang direspond dengan positif oleh pemerintah dan itu [IMHO] tepat sasarannya. Hanya saja kok ya aneh disaat kita harus satu suara untuk memberikan dukungan yang maksimal dan positif kepada awak TimNas Indonesia kok ya muncul gugatan seperti ini.

Bukannya malah muncul beberapa hal [terutama sekali dibenak saya]: jangan – jangan niatnya cuma mau cari popularitas semata dan yang paling ekstrim adalah pengalihan isu agar fokus suporter untuk tidak mencaci maki dengan teriakan agar pemegang status quo organisasai sepakbola nasional lengser tidak muncul ketika TimNas Indonesia akan bertanding malam nanti.

Maju terus Tim Nasional Indonesia, semoga prestasi maksimal dengan menjadi Juara di AFF Cup 2010 dan berharap bahwa para pemegang status quo menyadari kesalahan yang telah diperbuat bagi pembinaan sepakboal nasional dengan tidak memperpanjang masa jabatannya!

Malam Bersejarah

Subjek diatas merupakan ungkapan kebahagiaan gue dengan torehan hasil yang sangat menggembirakan dari Tim Nasional Sepakbola Indonesia di turnamen PIala AFF 2010.

Pertandingan terakhir putaran grup B yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan pada hari Selasa, 7 Desember 2010 malam. Hasil akhir yang tidak menentukan bagi TimNas Indonesia tapi sangat menentukan bagi Thailand karena disaat yang bersama Malaysia berhadapan dengan Laos [pertandingannya digelar secara bersamaan waktunya, cuma beda tempat, yaitu di Stadion Gelora Jakabaring Palembang, Sumatera Selatan]. Sungguh sebuah situasi yang menarik, mengingat di grup neraka ini prediksi yang semula menjagokan Thailand akan lolos ke babak berikutnya menjadi berantakan apabila sampai kalah dari TimNas dan Malaysia menang Vs. Laos.

Gue tidak akan bercerita dari sisi teknis, namun yang mau gue ungkapkan adalah suasana / atmosfer yang terjadi didalam Stadion Gelora Bung Karno Senayan malam itu merupakan salah satu moment yang mengharukan ditambah dengan kesulitan serta rintangan yang harus dilewati sebagai bagian dari “ritual ibadah” menuju ke stadion [sedikit lebay, tapi ngga masalah khan :D]..

Berawal dari rencana yang dadakan, setelah mendapatkan “wangsit” dari postingan twitter admin @infosuporter yang menyampaikan bahwa tiket pertandingan terakhir TimNas Vs. Thailand masih tersedia. Langsung melakukan koordinasi [sms] dengan pihak penyedia tiket [yg selanjutnya gue sebut sebagai Mr. X] dan diketahui bahwa harga yang ditawarkan cukup menarik, semakin membulatkan tekad untuk merapat.

Sempat sedikit labil, mengingat cuaca mendung yang menggelayuti seputaran tempat tinggal, mulai dari jam 2 siang sampai dengan jam 4 sore. Walaupun gerimis sempat turun, tidak menyurutkan tekad gue untuk merapat ke Senayan. Tepat jam 5 sore setelah semua persiapan mengendarai sepeda motor untuk mengantisipasi hujan selesai dilakukan, dapur pacu silver arrow dinyalakan dan diarahkan menuju ke Senayan. Mampir sejenak utk beli pulsa sebagai bekal utk melakukan koordinasi lanjutan dengan Mr. X.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 55 menit dan tiba di Hall Bulu Tangkis samping hotel mewah yang terdapat di Senayan, diputuskan untuk berhenti sejenak melakukan koordinasi dan konfirmasi akhir dengan Mr. X mengenai titik temu untuk melakukan transaksi. Sedikit mengalami kesulitan karena nomer yang dituju sedang digunakan. Setelah dicoba untuk kesekian kalinya, akhirnya tersambung dan posisi tempat transaksi adalah di seputaran Mesjid Al-Bina Senayan.

Tiba di lokasi, kurang lebih pukul 18:00, kesulitan terbesar muncul yaitu banyaknya penonton yang melakukan sholat maghrib terlebih dahulu di mesjid tersebut dan gue mengalami kesulitan untuk menemui orang yang dimaksud. Setelah hampir setengah jam lebih berputar – putar di area yang dimaksud dan suasana mesjid mulai bersahabat, maka usaha terakhir untuk menghubungi Mr. X berhasil dan langsung melakukan proses transaksi pembelian tiket.

Proses transaksi berjalan dengan mulus dan saatnya untuk melakukan kewajiban menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sembari mengirimkan doa agar TimNas meraih hasil yang terbaik.

Selesai melakukan Ibadah Sholat Maghrib dengan perasaan yang ringan, langkah kaki nan mantab langsung diarahkan menuju lokasi yang tertera di tiket yaitu Pintu / Sektor IX dan X Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Atmosfer yang luar biasa begitu terasa ketika memasuki area stadion disamping Mesjid Al – Bina, kesan angker yang tercipta yang menjadi ciri khas ketika melihat pertandingan sepakbola nasional, tidak terasa dan digantikan dengan suasana hangat dan kegembiraan yang gue rasakan. Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah sosok – sosok optimis yang terpancar dari mata – mata para pendukung Tim Nasional Indonesia. Semua kalangan dari segala umur baik pria maupun wanita terlihat di seputaran stadion dan sedang bersiap2x untuk memasuki gate yang telah ditentukan.

Begitu pula dengan sektor yang gue tuju, dari sisi kiri, kanan, depan dan menengok ke belakang tidak sedikit yang datang ke stadion adalah keluarga yang mengajak putera – puterinya [minimal kurang lebih 4 thn] menyaksikan pertandingan TimNas Vs. Thailand.

Saat yang ditunggu2x akhirnya datang, kick off pertandingan yang diawali dengan dikumandangkannya lagu kebangsaan dari Thailand dan Indonesia. Agak kecewa dengan sambutan yang diberikan oleh para pendukung Indonesia, – kejadiannya mirip ketika TimNas Vs. Malaysia, walaupun secara kualitas tdk begitu berat – yang tidak seperti selayaknya kita memberikan penghormatan kepada lagu kebangsaan negeri sendiri.

Lagu Indonesia Raya berkumandang, syal merah putih terbentang, aluanan bait dari Indonesia Raya terucap dan tanpa terasa nyaris air mata keluar menjadi salah satu moment bahagia yang jarang terjadi dari kesekian kalinya gue menyaksikan pertandingan tim nasional Indonesia yang pernah digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Pun demikian dengan suasana yang tercipta di sepanjang pertandingan, antusiasme dan semangat para pendukung terus bergulir dan diibaratkan dengan baterai, seakan baru di re-charge untuk kemampuan siaga yang berjam – jam.

Salut juga gue sampaikan dengan dukungan positif yang diberikan kepada TimNas yang pada babak ke-2 sempat kebobolan di menit 69. Ungkapan – ungkapan negatif yang biasanya terdengar, tdak tampak pada malam itu, yang terlihat dan gue saksikan adalah kombinasi yang apik dan menarik untuk membangkitkan semangat para pemain mengejar defisit gol dari Thailand. Dan akhirnya terbukti di moment ketika TimNas mendapatkan tendangan penalti [terlihat dari gerak tubuh wasit :D] setelah pemain Thailand melakukan pelanggaran [El Loco ditekel pemain belakang Thailand setelah baca laporan pertandingan di web :D].

Detak jantung mengalir dengan cepat jelang eksekusi tendangan penalti yang akan segera dilakukan oleh BP20. Gegap gempita dan gemuruh didalam stadion sungguh luar biasa, menyambut keberhasilan BP20 memanfaatkan hadiah penalti tersebut. Intensitas dukungan semakin bertambah dari para pendukung yang ada di stadion sembari berharap bahwa TimNas bisa mencuri kemenangan malam itu.

Efeknya luar biasa, TimNas tampil trengginas dan pemain Thailand menjadi gugup dan bermain sedikit kasar. Akhirnya apa yang diharapkan muncul juga ketika TimNas mendapatkan hadiah tendangan penalti kedua kalinya dari wasit yang berimbas dengan diterimanya kartu merah buat pemain Thailand.

Suasana yang gue rasakan dan terliat malam itu sukar untuk diungkapkan, iringan doa yang disampaikan jelang eksekusi penalti dan gema takbir yang terucap ketika eksekusi berhasil dilaksanakan mengalir begitu cepat seiring dengan riuh rendahnya sorak sorai para pendukung menyambut gol yang disumbangkan oleh BP20 untuk kedua kalinya.

Sedikit tidak mempedulikan penonton yang ada didepan, belakang dan samping kanan gue, secara spontan mengibas2xkan syal merah putih sebagai ekspresi kegembiraan yang dilakukan kurang lebih selama 5 menit.

Malam bersejarah, mengingat selama ini TimNas sulit utk mengalahkan Thailand dan lebih banyak kalah dibandingkan dengan hasil seri sekalipun.

Malam yang begitu membahagiakan, dimana pada dinihari sebelumnya, Liverpool FC berhasil mengalahkan Aston Villa dengan skor 3 – 0 tanpa diperkuat 3 pemain andalannya: SteviG, Carra [cedera] dan Fernando Torres [menanti kelahiran putra ke-2] pada malam itu.

Sungguh sebuah permulaan dan akhir yang indah pada hari itu 🙂

Semoga Tim Nasional Indonesia tetap fokus dan memperbaiki semua kekurangan yang ada dan yang paling utama adalah tidak menganggap enteng lawan karena perjalanan menuju tangga juara masih panjang dan penuh ringtangan yang berat.

Maju terus Garudaku, Merah Putih, You’ll Never Walk Alone..

Img-20101207-00017Img-20101207-00018Img-20101207-00019Img-20101207-00020Img-20101207-00021Img-20101207-00022Img-20101207-00023Img-20101207-00024Img-20101207-00025Img-20101207-00027Img-20101207-00029Img-20101207-00028

*update: TimNas Indonesia pada SemiFinal akan menghadapi Filipina dan yang menarik adalah pertandingan home and away akan dilakukan di Jakarta karena Filipina tidak memiliki stadion yang layak untuk menggelar pertandingan internasional.

 

 

Tetap Menjejakkan Kaki Ke Bumi..

Subjek diatas saya persembahkan khusus kepada semua punggawa TimNas Indonesia yang pada pertandingan lanjutan di ajang AFF Suzuki Cup 2010, mengalahkan Laos dengan skor yang telak 6 – 0.

TimNas Indonesia turun dengan formasi lengkap seperti ketika bertemu dengan Malaysia, langsung menggebrak mulai dari menit pertama. Gol bagi TimNas dipersembahkan oleh Firman Utina [2 go],  M. Ridwan, Irfan Bachdim, Arif Suyono dan Okto Maniani.

Mengenai proses golnya? Ngga perlu diceritakan karena sudah banyak dibahas di media cetak, elektronik dan social media.

Saya ingin menyoroti perkembangan yang diperlihatkan oleh para pemain TimNas kemarin Vs. Laos. Alhamdulillah, ada perubahan yang cukup signifikan, mengingat para pemain mulai berani bermain sabar, memberikan passing kepada teman yang kosong, membuka ruang untuk memberikan kesempatan temannya mencari posisi lowong yang tidak dijaga oleh musuh serta mulai kreatif membuat serangan dari semua sisi lapangan [sayap kanan, kiri dan tengah] serta melalui serangan balik cepat nan mematikan.

Apakah karena lawannya Laos? Yang dilihat secara kasat mata dari segala sudut memiliki ketimpangan yang lumayan signifikan dibandingkan pemain TimNas?

Besar harapan dari kita semua tentunya, bahwa TimNas bermain konsisten dan lebih bermain sabar dan tidak langsung “direct football’ mengirimkan bola ke depan mengarah ke duo striker, mengingat lawan terakhir adalah Thailand yang secara historis merupakan lawan berat [bin musuh bebuyutan] bagi TimNas.

Dilema memang, dengan posisi klasemen grup A saat ini, merupakan sebuah pilihan yang berat buat tim pelatih, apakah akan mempertahankan starting line up seperti ketika Vs. Malaysia & Laos ataukah melakukan rotasi yang besar – besaran untuk menyimpan tenaga dan pikiran untuk menghadapi lawan di grup B untuk partai semifinal?

Alfred Riedl dan tim tentunya sudah merancang serta mempertimbangkan secara matang strategi yang akan digunakan untuk menghadapi Thailand.

Maju terus Garudaku, hadapi semua lawan dengan daya juang tinggi.

Ini Kandang Kita dan selalu ingat: Garuda Upon the Chest! 

Aff_match_summary2

Match summary source: 

Media_httpwwwaffsuzuk_dbhao